Bergandeng Tangan Majukan Parekraf Global yang Berkelanjutan | TA

HABIS Gelap Terbitlah Terang. Buku yang merangkum pemikiran Raden Ajeng Kartini serta upayanya dalam mencerdaskan kaum perempuan melalui kelas membaca yang ia adakan di teras rumah ayahandanya, hampir selalu menjadi pokok pembicaraan kita, tiap kali hari lahirnya 21 April datang. Kiprah Kartini itu tentu ditakzimi oleh semua perempuan Indonesia, termasuk saya.

Namun, sejatinya, ada sisi lain Kartini yang sedikit luput dari pandangan dan pengetahuan kita. Yakni, dukungannya yang begitu penuh terhadap kesenian dan kriya tradisonal, yang dengan bangga ia kabarkan pula ke tanah Eropa. Kesenian dan kriya, sebagaimana kita ketahui bersama, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf).

Dalam buku Panggil Aku Kartini Sadja yang terbit pertama kali pada 1962, Pramoedya Ananta Toer, penulisnya, sempat mengulas secara lengkap tentang sebuah tulisan–saya bayangkan serupa sebuah pengantar kuratorial–yang dibuat oleh Kartini sebagai pengantar dalam Pameran Karja Wanita, sebuah pameran kriya dan seni rakyat yang diadakan di Den Haag, Belanda, pada 1898.

Kartini yang saat itu berusia 19 tahun menulis naskah yang menceritakan proses pembuatan batik secara lengkap, runtut, dan detail dalam bahasa Belanda yang amat baik. Tulisan bertajuk Handscrift Japara tersebut menarik hati ibu suri kerajaan Belanda saat itu, yang terpesona oleh keindahan batik, yang turut serta dipamerkan.

Pelopor perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1879, yang hingga kini hari lahirnya dirayakan kaum perempuan Indonesia itu, tak menuliskan artikel tersebut sekadar dari pengamatan, melainkan pengalaman. Sebab, ia dan para saudara perempuannya kerap membuat sendiri kain batik yang akan mereka kenakan. Proses pembuatan batik bukan sesuatu yang asing bagi Kartini. Ia paham benar detail setiap tahapan proses tersebut hingga dapat menuangkannya ke dalam narasi yang lengkap dan sublim. Runtut secara tahapan. Sekaligus memiliki kedalaman filosofis karena kedekatan emosional yang terjalin antara Kartini dan seluruh tahap pembuatan batik yang ia kisahkan.

Tulisan itu kemudian terpilih menjadi salah satu acuan penting untuk bagian pertama buku De Batikkunst in Nederland Indie en hare Geschiedenis yang disusun oleh G P Rouffaer dan Dr H H Juynboll. Buku, yang oleh Pram disebut dengan istilah karja-standard tersebut, merupakan salah satu buku awal yang membahas batik secara komprehensif.

Jauh setelah pameran di Den Haag itu usai, dalam surat yang dikirimkan kepada salah satu sahabat penanya, Estelle Zeenhandelar, Kartini tak dapat menyembunyikan kebanggaannya tentang terpilihnya tulisan itu dalam buku Rouffaer dan Juynboll. Dalam surat itu, ia antara lain menulis, ‘Sebuah karangan tentang batik, jang tahun lalu kutulis buat Pameran Karja Wanita, dan sedjak itu tak terdengar kabar beritanja, akan diterbitkan di dalam karja-standard tentang batik, jang segera akan terbit’.

Namun, batik bukan satu-satunya seni kriya yang Kartini dukung perkembangannya. Seni ukir Jepara yang tersohor juga mendapat perhatian besar darinya. Ia tak sekadar mempromosikan hasil karya perajin ukir Jepara kepada sahabat-sahabat penanya di Eropa, tapi juga terlibat dalam pengembangan motif ukir. Wayang dan lunglungan bunga merupakan dua motif ukir Jepara yang pembuatannya digagas dan didorong oleh Kartini kepada perajin ukir di desa, yang pada masa itu kebanyakan bermukim di daerah yang disebut dengan nama belakang gunung. Seperti batik, tentang seni ukir Jepara ini pun, Kartini membuat sebuah tulisan yang ia beri judul Van en Uithockje atau Pojok yang Terlupakan, yang merangkum rasa kagum Kartini kepada hasil karya ukir rakyat Jepara yang begitu indah.

Bagi Kartini, kebanggaan terbesar dari tersebarnya tulisan karyanya tentang kesenian, wastra, dan seni kriya rakyat bukanlah semata karena pemikiran dan tulisan yang ia buat dapat masuk ke dalam buku penting atau dibaca oleh banyak orang. Melainkan, pada kesempatan yang secara berbarengan ia peroleh, untuk memperkenalkan kriya dan seni rakyat yang amat ia cinta dan banggakan kepada dunia.

Di mata saya, Kartini melakukan sesuatu yang amat penting. Sesuatu yang kini kerap kita sebut sebagai diplomasi budaya. Hal yang pernah pula dilakukan oleh Gusti Nurul, ketika ia menarikan Srimpi Sari Tunggal di pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Negeri Belanda pada 1937, dengan iringan langsung gamelan hidup yang ditransmisikan melalui radio langsung dari Surakarta.

Kendati produk yang dihasilkan oleh Kartini dan Gusti Nurul berbeda, tulisan dan tarian, saya menakzimi keduanya. Mereka membuktikan bahwa sejak lama, kaum perempuan telah menyumbang andil besar dalam upaya pengenalan potensi dan produk budaya yang tak bisa dilepaskan dari pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia kepada dunia. Mereka dan banyak perempuan lain yang terlibat dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif selama berdekade, saya yakin turut pula menyumbang berbagai karya mereka sebagai ‘batu, semen, pasir, dan air’ pembangun pilar yang memperkukuh kedua industri ini.

 

Perempuan, pemberdayaan, dan pemulihan parekraf pascapandemi

Unit-unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), juga berbagai kerja jasa yang dilakukan, baik secara perorangan maupun kelompok yang digagas, didirikan, dan dikelola oleh kaum perempuan, menurut saya menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di negeri kita.

Sebut saja misalnya beberapa usaha kuliner ternama di Pulau Dewata, seperti Warung Made yang didirikan oleh Ni Made Masih, juga ayam betutu khas Gilimanuk yang diperkenalkan Ni Wayan Rarud melalui Kedai Men Tempeh-nya. Ada pula seniman perhiasan perak Runi Palar yang karya-karyanya telah melanglang dunia, atau Delia Murwihartini, pengusaha tas rajut yang memulai bisnisnya dari menitipkan tas-tas yang ia beri label Dowa itu di toko-toko cendera mata di hotel-hotel kecil di Yogyakarta.

Itu baru menyebut sangat sedikit sekali pelaku industri parekraf. Nama-nama itu akan menjadi sangat panjang daftarnya bila kita merambah pula ke lini-lini lain dalam pariwisata dan misalnya perhotelan, spa, penerbangan, biro perjalanan, juga MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) dan lainnya.

Dalam bidang ekonomi kreatif pun begitu. Ada banyak perempuan yang turut menggerakkan seluruh subsektor ekonomi kreatif, yang saat ini berjumlah 17 itu, yakni pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film-animasi-video, fotografi, serta desain komunikasi visual. Juga, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi.

Menurut data yang dimiliki Kemenparekraf, pada 2020 perempuan yang menjadi tenaga profesional dalam berbagai bidang di seluruh Indonesia jumlahnya mencapai 45,76%. Di ke-17 subsektor ekonomi kreatif, jumlah pekerja perempuan bahkan mencapai 57% dari total jumlah pekerja di bidang ini. Angka tersebut melampaui jumlah pekerja pria yang hanya 42,8%. Persentase perempuan yang lebih besar itu, tentu juga akan bertambah bila digabung dengan para perempuan yang bekerja di dunia pariwisata yang mencapai 54% dari total keseluruhan pekerja di bidang ini di negeri kita.

Pada Februari 2022 lalu, ketika berbicara dalam Konferensi Nasional Perempuan Indonesia 2022 yang mengambil tema Gerakan dan Peran Perempuan untuk Perubahan Menuju Indonesia 2024, saya menyampaikan berbagai upaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk melakukan pemberdayaan perempuan yang bekerja dalam bidang parekraf.

Salah satunya ialah meningkatkan daya saing melalui pemberian beragam pelatihan dan sertifikasi kompetensi profesi bagi sekitar 18.400 sumber daya manusia pariwisata dan 2.000 untuk ekonomi kreatif. Pendampingan digital serta entrepreneurship juga merupakan hal yang dilakukan Kemenparekraf bagi para pelaku industri perempuan untuk meningkatkan kapasitas kewirausahaan mereka. Program lainnya semisal Hibah Desain, yang memberikan bantuan bagi para pelaku industri untuk membuat desain kemasan produk UMKM sehingga menjadi lebih menarik untuk dijual.

Pemberdayaan, terutama bagi para perempuan pelaku industri, kami yakini harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Sebab, pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki potensi pengembangan yang amat besar, tapi acap terbentur berbagai hal. Di sisi lain, kami juga memahami sekali persoalan mendasar yang kerap dihadapi para pelaku usaha, khususnya perempuan, menyangkut masalah permodalan. Terkait hal tersebut, Kemenparekraf memberikan insentif pemerintah untuk modal usaha, serta mengupayakan berbagai pertemuan pelaku usaha parekraf dengan berbagai alternatif sumber pembiayaan dari berbagai lembaga keuangan dan investor.

Di luar hal-hal itu, Kemenparekraf juga melakukan pendampingan usaha, memberi fasilitasi hak kekayaan intelektual (HKI), peningkatan kualitas kerja melalui pelatihan dan sertifikasi, promosi, penyelenggaraan events, on boarding ke platform digital, dan masih banyak lagi. Kemenparekraf juga mendorong program wirausaha agar semakin banyak perempuan bisa terlibat sebagai entrepreneur-entrepreneur sehingga bisa menciptakan ekosistem wirausaha yang berpihak kepada perempuan.

Terlebih lagi, ketika pandemi covid-19 mulai melanda. Perhatian kami di Kemenparekraf terhadap perempuan pelaku industri parekraf yang kebanyakan berupa UMKM kian meningkat. Sebab, pandemi nyaris melumpuhkan seluruh sendi parekraf. Melandainya pandemi, dan aktivitas masyarakat yang mulai kembali normal, membuat roda perekonomian mulai bergulir lagi. Daerah-daerah pariwisata nyaris lumpuh dalam dua tahun masa pandemi, meski kini mulai berusaha untuk bangkit walaupun tertatih. Demikian pula di ranah ekonomi kreatif.

Menurut data dari UMKM Indonesia, saya melihat perempuan memegang peranan penting selama masa pandemi covid-19. Sepanjang 2021, terjadi peningkatan jumlah UMKM yang dikelola oleh perempuan. Sebelum pandemi, 60% dari UMKM dikelola oleh perempuan, dan data ini meningkat menjadi 64,5% di 2021. Hal itu membuktikan bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Lebih dari 99,9% dari total pelaku usaha adalah UMKM yang menyerap 97% dari total tenaga kerja nasional, dan memberi kontribusi lebih dari 57% PDB Indonesia. Saya berharap UMKM bisa terus menjadi kekuatan ekonomi yang dapat menciptakan lapangan kerja seluasnya, dan bisa menjadi penggerak kebangkitan ekonomi pascapandemi.

 

Membicarakan parekraf global yang berkelanjutan dalam WCCE 2022

Beruntung pula, di 2022 ini Indonesia terpilih menjalankan Presidensi G-20, yang akan memberi ruang bagi kita mendiskusikan banyak hal penting terkait kelanjutan pembangunan dan proses pemulihan ekonomi dunia pascapandemi covid-19.

Akan ada berbagai pertemuan yang digelar dalam forum G-20, yang akan dipungkas dengan konferensi tingkat tinggi (KTT) pada November 2022 mendatang. Salah satu agenda side event yang akan digelar dalam rangkaian presidensi G-20 yang mengusung tema Recover Together, Recover Stronger itu ialah World Conference on Creative Economy (WCCE). WCCE membicarakan berbagai dinamika dalam ranah ekonomi kreatif dengan para pemangku kepentingan dalam industri ini secara global, dengan melibatkan seluruh stakeholder, seperti perwakilan pemerintah, sektor swasta, asosiasi, masyarakat sipil, organisasi internasional, juga media dan para pakar dalam bidang ini.

Konferensi ini juga akan menjadi forum kolaborasi antarnegara guna meningkatkan kesadaran atas pentingnya strategi industri ekonomi kreatif. Kami akan mengetengahkan tema Inclusively Creative: A Global Recovery dan dari tema besar tersebut, kami membaginya dalam empat subtema. Pertama, Ekonomi Kreatif untuk Kebangkitan Global (Creative Economy for Global Revival), yang akan berfokus mengenai kebijakan efektif dan inklusif serta inisiatif yang berdampak langsung pada pemulihan global.

Kedua, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Hak Para Kreatif (IP and Rights of the Creatives), yang menekankan pentingnya perlindungan dan pemanfaatan HKI, serta mengeksplorasi pemenuhan hak dan jaminan sosial para kreatif.

Ketiga, Inklusivitas dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Inclusivity and SDGs Agenda), yang akan mengeksplorasi peran sektor ekonomi kreatif sebagai solusi permasalahan global. Terakhir, Masa Depan Ekonomi Kreatif (The Future of Creative Economy) dalam tatanan ekonomi nasional dan dunia.

Dalam percakapan tentang subtema Creative Economy for Global Revival, kita akan mengajak para perwakilan anggota G-20 dan negara sahabat untuk mengeksplorasi proses pengambilan keputusan yang tepat demi menghasilkan kebijakan dan inisiatif di sektor ekonomi kreatif yang berdampak langsung dalam proses pemulihan ekonomi global.

Sementara, dalam subtema IP and Rights of the Creatives, kita akan bersama-sama melihat dan merangkul berbagai moda baru pelestarian digital, untuk kemudian melihat apa yang dapat sama-sama dilakukan guna membuat mekanisme perlindungan penciptaan digital yang lebih baik melalui mekanisme konvensional maupun dengan jaring pengaman yang lebih mutakhir.

Lalu, dalam subtema Inclusivity and SDGs Agenda, para pemangku kepentingan akan kita ajak untuk menelaah kembali prinsip-prinsip yang selama ini disebut sebagai ‘inklusivitas kreatif,’ dan mendudukkan serta menghubungkannya dengan fenomena global saat ini yang begitu dinamis, baik dalam konteks pemulihan pandemi maupun dalam konteks geopolitik, yang beberapa waktu belakangan, mau tak mau, terimbas pula oleh konflik Rusia dan Ukraina.

Adapun dalam percakapan The Future of Creative Economy, kita akan mencoba mengajak semua perwakilan negara anggota G-20 dan negara sahabat untuk melihat dunia dalam 10, 20, bahkan 50 tahun ke depan guna mendapatkan gambaran bagaimana kreativitas dapat mengubah arah dunia.

Saya berharap WCCE 2022 nanti dapat menghasilkan deklarasi bersama dalam mendukung pengembangan industri ekonomi kreatif sebagai pilar ekonomi, yang nantinya bisa menjadi landasan untuk memetakan kelanjutan pengarusutamaan ekonomi kreatif dunia. Selain itu, bisa memberi kesempatan bagi kita semua untuk melihat lebih jauh, bagaimana ekonomi kreatif sejatinya bukanlah sekadar sektor komplementer, tapi telah menjadi salah satu sektor kunci dalam pengembangan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk bagi kaum perempuan. Untuk itu, saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia memberi dukungan penuh bagi suksesnya pelaksanaan Presidensi Indonesia di G-20, juga WCCE 2022 nanti.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.